Bu, kenapa kita harus pusing-pusing belajar ini?

Pertanyaan spontan yang keluar dari seorang mahasiswi di kelas siang itu. Ia sedang berkutat dengan sejumlah soal latihan mengenai pemodelan bahasa formal dengan menggunakan DFA (Deterministic Finite State Automata). Ingin rasanya saya menjawab:
“Nak, sesungguhnya Ibu iri denganmu, dulu saat Ibu belajar mata kuliah ini, pertanyaan yang sama selalu terpendam dalam dada Ibu. Namun, kala itu, Ibu tak berani menanyakannya langsung kepada Bapak Dosen. Takut ditertawakan teman-teman atau bapak dosen,… Ibu salut dengan keberanianmu. “
Pada akhirnya saya hanya menjawab, kira-kira seperti ini:
“Karena ini bermanfaat untuk memahami struktur bahasa formal di komputer. Nantinya, kamu jadi paham bahwa kemampuan komputer itu ternyata terbatas. Dan, kita, manusia punya kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan komputer,”
Dan, dia pun mengangguk-angguk. Entah mengerti, entah tambah bingung.

Di pertemuan perdana awal semester, seperti rekan-rekan yang lain, biasanya saya isi dengan menjelaskan mengapa belajar ini, manfaatnya apa, dan seterusnya. Intinya, saya ingin memotivasi mereka untuk tertarik mempelajari materi pada kuliah ini. Namun, seiring berjalannya waktu, di mata mahasiswa, materi kian bertambah sulit dan rumit, banyak notasi dan simbol matematis yang membuat mata berputar-putar. Dan akhirnya, muncullah pertanyaan di atas. Untuk apa semua kerumitan ini?

Bagi saya, itulah salah satu tantangan bagi seorang pengajar atau dosen dalam melakukan pendidikan dan pengajaran. Bukan hanya mentransfer ilmu yang mungkin bisa mereka baca di buku atau internet. Memotivasi, menumbuhkan rasa ingin tahu, membangkitkan ketertarikan, sehingga saat mereka masuk kelas, mereka tidak hanya mendengarkan, mencatat dan mengerjakan latihan secara terpaksa. Ingin rasanya pertemuan setiap pekan di kelas adalah pertemuan yang dinanti-nanti, bukan sebaliknya.

Beberapa hal yang saya coba selama beberapa semester ini adalah:

  • Memberikan ulasan tentang contoh aplikasi materi di dunia nyata.
  • Memutar video yang inspiratif.
  • Meminta umpan balik mengenai perkuliahan dan meminta saran dari mahasiswa mengenai proses pembelajaran di tengah semester (pertemuan ke-8 setelah UTS)
  • Menyediakan waktu konsultasi di luar waktu kuliah. Meski belum maksimal, beberapa mahasiswa ada yang memanfaatkan ini dan memberikan hasil yang cukup baik.
  • Memberikan proyek atau tugas kelompok yang bersifat praktik.

Apakah saya berhasil? Rasanya belum maksimal. Masih banyak mahasiswa yang belum paham materi yang disampaikan, ditandai dengan rekap nilai yang berhiaskan huruf C, D, dan E. Masih banyak mahasiswa yang mengantuk saat kuliah di siang hari. Tapi, yang pasti, masih ada ruang yang luas untuk berinovasi dan memperbaiki strategi pembelajaran.

Hari itu, saya belajar dari pertanyaan seorang mahasiswi. Pekan depannya, saya belajar dari pertanyaan mahasiswa lainnya. Di akhir semester, saya belajar dari presentasi tugas besar setiap kelompok. Alhamdulillah, bahagianya menjadi dosen.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: