Mom’s writing #2: Badai Flu Singapura

Pada tulisan ini, saya akan berbagi cerita tentang penyakit yang kemarin baru saja mendera Salman. Sekitar satu minggu Salman terkena infeksi flu singapura atau bahasa lainnya  HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease). Setelah Salman membaik, agak ketar ketir, khawatir kakaknya terpapar virus yang sama. Ternyata, Izza aman dari virus HFMD ini, tapi… terpapar virus lain yang menyebabkan Gastroentritis (flu lambung) yang gejalanya sering kita sebut diare/mencret disertai kembung dan muntah. Tentang flu lambung, semoga bisa saya tuliskan menyusul.

Gejala awal yang dialami Salman saat terkena flu singapura adalah low grade fever selama 3 hari. Dari catatan yang saya buat, demamnya tidak lebih dari 37.8 derajat Celcius. Di hari itu, Salman tetap masuk daycare karena suhu tubuhnya membaik dan setelah diobservasi tidak ada gejala lain yang perlu dikhawatirkan selain ruam-ruam yang timbul (teraba) di tangan dan kaki. Mungkin roseola atau HFMD/flu singapura, pikir saya. Tapi kalau roseola gejalanya, demam cukup tinggi. Berarti kemungkinannya flu Singapura. Makan minum masih lancar, tidak ada gejala dehidrasi atau kejang demam. Keep calm, semua masih dalam batas wajar, pikir saya coba menenangkan diri sendiri. Saya pun berangkat ke Kampus. Salman dan Izza tetap masuk sekolah. Ternyata, siangnya saya dihubungi oleh Bunda di sekolahnya untuk segera menjemput Salman.

“Mama Izza, Salman dijemput aja ya.. Ini dek Nay (teman daycare Salman) sudah diperiksa ke dokter dan terkena flu singapura. Gejalanya sama dengan Salman, bahkan Salman tambah banyak ruam-ruamnya.

“Oke Bunda,” jawab saya dengan segera sambil meluncur ke Daycare setelah ijin tidak ikut rapat ke Pak Kajur. Sampai di Daycare, taraaa… Salman sedang mainan, ketawa-tawa, ke sana ke mari. Tapi.. ruamnya bertambah banyak, di lutut sampai telapak kaki, siku sampai telapak tangan, di lidah dan bibir. Makan dan minum masih lancar kata Bunda, tapi ini takutnya menulari teman-teman yang lain. Jadi, lebih baik di bawa pulang saja. Oke Bunda, Salman dikarantina dulu, jawab saya. Saat menjemput Salman, Izza sedang tidur siang jadi tidak ribut minta pulang juga (Salman dan Izza ada di satu Daycare – pen).

Praktis, keesokan harinya saya tidak ke kampus. Izza juga ikut-ikutan mogok sekolah, menemani adik, katanya. Kondisi Salman secara umum membaik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya perlu istirahat saja. Suhu tubuh normal sekitar 36-36.5 derajat Celcius, BAK (Buang Air Kencing) normal, ditandai dengan pampers yang sering penuh. Hanya ruamnya saja yang membuat dia sangat tidak nyaman karena sebagian ada yang melepuh. Bahkan ada yang sudah pecah, tangannya ingin terus menggaruk-garuk. Terkadang saya beri Caladine cair atau bedak. Makan agak sedikit terganggu karena ruam di bibir seperti sariawan. Salman juga menjadi sering ngeces. Minum masih OK. Saya beri banyak air putih dan ASI, buah-buahan dingin, jus alpukat, sayur bening, susu UHT, dan Ice cream😀

Setelah sehari istirahat di rumah, Salman sudah baikan. Ruam atau blisternya sudah ada yang pecah, sebagian sedang dalam proses menuju kering. Jam 8 pagi kami pun berangkat lagi ke Daycare, alhamdulillah diterima oleh Bundanya. Boleh masuk. Jam 10, Salman dan Izza saya jemput untuk pergi ke Posyandu karena ada pembagian vitamin A. Setelah beres, mereka berdua kembali ke Daycare dan saya kembali ke kampus. Di sore hari, saat menjemput Salman :
“Mama Izza, kata Bunda A (pemilik daycare), sebaiknya Salman besok istirahat lagi karena takut menulari teman-temannya. Justru saat lukanya sedang kering ini, virusnya menyebar ke mana-mana.”
“Oh, oke Bunda..”.

Sebenarnya, saya pernah dapat info itu. Bahwa kalau dalam masa penyembuhan, penyakit sejenis ini (cacar air, HFMD, mumps/gondongan, campak, dll) justru berisiko menyebar virusnya ke lingkungan. Tapi, karena ada faktor harus ke kampus, maka Salman tetap saya bawa ke Daycare. Egois ya.

Keesokan harinya, Salman istirahat di rumah lagi, sesuai dengan rencana. Dan, qadarullah.. Suasana pagi itu gelap gulita, tidak ada cahaya. Buka pintu, disambut oleh hujan abu dari Gunung Kelud. Menyusul berita dari Bunda: TK Khalifah diliburkan karena bahaya abu vulkanik Gunung Kelud, dan berita dari Kampus: aktivitas akademik UII dan administrasi diliburkan. Tak lama, Alhamdulillah, Bapak Wisnu-pun datang dari tanah perjuangannya di Ibu Kota setelah berbelas-belas jam menempuh perjalanan darat karena penerbangan yang ditunda.

Sumber:

http://milissehat.web.id/?p=1607

http://id.wikipedia.org/wiki/Flu_Singapura

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: