Menilai

Seorang guru pernah bilang bahwa memberi nilai adalah pekerjaan yang paling tidak disukainya. Agak tidak nyaman memang, menjadi penentu langkah seseorang. Setelah kupikir-pikir dan kurasa-rasa, guru yang sedang memberi nilai kepada muridnya sebenarnya sedang memberi nilai kepada dirinya sendiri. Apa yang diberi itulah yang diterima. Harus lebih optimal dalam memberi nih. Tapi jangan seperti lilin yang membakar diri demi menyinari sekitarnya atau seperti teko yang terus2an dituang tanpa diisi ulang.

Satu lagi, di balik (bersama) kesulitan ada kemudahan. Sungguh, di balik (bersama) kesulitan ada kemudahan. Tau kok, itu pasti. Tapi ya gitu, sering lupa (ato ga yakin?).

5 comments so far

  1. fani ferdiana on

    jadi guru,,, itu cita2 ku waktu SMA😀

    Jadi matahari aja Noj. Kalo siang dia begitu benderang. Kalo malam cahyanya tetap benderang, terpantul lewat rembulan.

  2. Bang Aswi on

    Makanya, menilai itu relatif. Susah2 gampang menjadi guru itu… hiks!

  3. novi on

    @fani
    sekarang cita2mu apa nie?
    panas donk kalo jadi matahari😛

    @bang Aswi
    iya Bang, susah2 gampang. tetep aja, ga bisa 100% objektif dlm menilai.

  4. smartsholeha on

    hmmm hmm… aslm nopi… kumaha damang? on terus di blog… guru… masih tetep pengen nih jadi guru…

  5. novi on

    wa’alaikumsalam.. alhamdulillah damang moy..
    jadi guru yuk..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: