Cerita(nya) dari Gasibu…

Setelah empat tahun numpang hidup di Bandung, kesampean juga pergi ke Gasibu untuk liat-liat pasar kagetnya. Pernah sih, ke Gasibu tapi bukan pas hari Minggu. Rata-rata, gini komentar teman: “Ha? Belum pernah ke pasar Gasibu? Kemana aja selama ini??” Akhirnya, tepat dua bulan yang lalu, di hari pertama kenaikan resmi BBM, saya pergi ke sana. Sudah agak siang dan memang ga niat belanja apapun.

Wuih, memang bikin pusing ini pasar. Banyak banget orang, yang jualannya macem-macem, semua tumplek blek di sini. Pengamennya juga macem-macem, mulai dari yang bawa gitar gonjreng2 sampai rombongan topeng monyet. Karena hari mulai siang, ternyata niat saya untuk tidak jajan dikalahkan oleh seorang penjual makanan tradisional. Ibu Nia namanya, berusia sekitar 40 tahun. Dia masih bertahan menjajakan dagangannya walau hanya beralas terpal dan beratap langit biru. Udara semakin panas seiring matahari yang semakin tinggi. “Silakan Neng, dicoba. Hanya seribuan. Ada getuk, awug, puli, gurandil, jiwel,” tawarnya.


Setelah sapa-sapa bentar, Ibu Nia cerita dia berasal dari daerah Pasir Koja. Sudah sekitar satu tahun ini dia mencoba mengadu nasib di Gasibu setiap hari Minggu. Ibu Nia biasa berangkat dari rumahnya sekitar pukul empat pagi bersama dengan rombongan pedagang lainnya yang satu daerah. Mereka biasanya menyewa beberapa angkutan kota. Saat ditanya tentang kenaikan harga BBM, Ibu Nia menjawab, “Kalau angkot tadi pagi belum naik, tapi kalau bahan-bahan sudah naik beberapa minggu yang lalu.” Yang unik adalah raut mukanya selalu dihiasi senyum, serasa tidak ada kekhawatiran karena beban kehidupan yang semakin berat. “Neng, Ibu mah belum kebagian dana bantuan itu lho, padahal di tempat lain katanya sudah. Sekarang mah sabar saja, semoga nanti masih kebagian,” begitu ujarnya saat ditanya tentang BLT yang kabarnya sudah didistribusikan kepada kelompok masyarakat kurang mampu.

Sehari-hari, Ibu Nia berjualan mie bakso di rumahnya. Di akhir pekan, setiap Sabtu malam, beliau selalu begadang untuk membuat makanan tradisional yang akan dijualnya di Gasibu. “Anak Ibu ada enam, lima putra, satu putri masih kecil. Jadi, belum bisa bantu-bantu. Akhirnya, Ibu sendiri yang membuat ini semua”. Biasanya Ibu Nia berjualan sampai tengah hari, sekitar pukul 11.30. Tidak jarang dagangannya masih tersisa. “Semalam sudah capek begadang, ternyata masih sisa. Kadang sedih juga sih, Neng. Tapi kan usaha, harus pantang menyerah.”

Ah, belum lama saya duduk di sana, sudah ada dua pemungut retribusi yang datang. Ibu Nia memberinya masing-masing lima ratus rupiah. “Biasanya sehari bisa sampai sepuluh pemungut karcis, untuk keamanan dan kebersihan,” ujarnya. Pungutan liar memang sudah menjadi semacam lagu lama bagi para pedagang kaki lima. Selain pemungut ‘retribusi’, ada juga peminta-minta yang datang. Seorang pengemis diberinya sebungkus gurandil, penganan yang terbuat dari kanji dan dilengkapi dengan parutan kelapa. Meskipun penghasilannya dari pasar kaget ini tidak menentu, naik dan turun, ditambah pungutan yang semakin besar jumlahnya, Ibu Nia tidak pernah menyerah. Beliau selalu memiliki harapan bahwa setiap hari Minggu akan selalu ada rizki yang diperolehnya di Gasibu. “Semoga kondisi kita semakin baik ya, Neng…”

Ya, selalu ada harapan di Gasibu setiap hari Minggu bagi para pedagang, tukang parkir, pengamen, kelompok topeng monyet, sampai pemungut ‘retribusi’. Harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Bahkan, orang yang liat-liat dan jalan-jalan pun selalu menyimpan harapan untuk dapat menikmati berbagai barang dengan harga miring, sekaligus menikmati ruang publik multifungsi yang semakin jarang di kota Bandung ini.

16 comments so far

  1. Yudha P Sunandar on

    wuih, cocok jadi reporter atau wartawan nih. cara ngegali informasiny itu lho…😀

  2. senny on

    paling males ke sana karena selain macet, banyak copet atau tukang hipnotisnyaaaaa….

    angker tuh daerah!

  3. ceritanya dari.. on

    Ciwidey!
    Hehe, cuapek tenan.
    ~indz

  4. rani! on

    ya ampun nov…
    ini kan yang buat uas jurnalisme itu kan?
    meuni baru diposting sekarang😀

  5. novi on

    @Yudha
    ini memang niat wawancara, jadi ya begitulah…

    @senny
    hii, serem amat.

    @indz
    dah ilang capeknya. tinggal nunggu sharing foto2nya😀

    @lafra
    hehehe, iya laf yg buat uas tea.
    baru ada mood buat posting🙂

  6. 37degree on

    salah seorang yg kaget! “serius belum pernah ke gasibu”

    dan sekarang berkata, “akhirnyaaa ;)”

  7. t4rum4 on

    tas saya pernah di bobolll… :)) jadi dah jarang kesana lagi.. :p

  8. indz on

    pindahan ga bilang2 <_<

  9. dhie on

    ndak ke bayang begitu semerawutnya gasibu di Minggu pagi.😉

  10. dian indah savitri on

    kemana aja novi??
    ko jarang OL??
    aduh kangen..
    gimana kabarnya?
    gimana sudah sidang?
    abi alhamdulilah tos kenging damel..
    kontak yha..
    blog abi tos update😀

  11. indz on

    Huaa uda pindahan ga bilang2 itupun juga ga bilang2, Teganya teganya😀 *merasa kecolongan karena ga tau apa2 tentang temen deketnya*

  12. Riska on

    Ada apa ini, ada apa ini,,,? :p

  13. dhinie on

    NOv, kok ak ga di SMS😦 curang ahhh curanggg….ak tau dari sodara jauuuhhhh huks, tegaaa😀
    hhohohoho si riska niy pura2 ga tau ;p

    kapan kita belanjaa kadooooooooooo!!!!!:D

  14. Zulfikar on

    Perkenalkan, saya Zulfikar.

    Nice articel. I lov’in it.

  15. Andi Eko on

    He he he pasar minggu yang indah🙂
    Salam Kenal

  16. Izza on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: