Catatan Perjalanan

Masih dalam suasana pengen ke tempat yang ndeso… Ini salah satu catatan perjalananku, ditulis supaya bisa merasakan lagi salah satu nikmatNya.

Sekitar setahun ato 2 tahun yang lalu (lupa), aku diberi kesempatan untuk jadi panitia sebuah training di daerah Bandung coret. Udaranya sejuk, masih banyak sawah, kebun, kolam ikan, dan delman yang bener2 jadi alat transportasi, bukan sarana rekreasi kayak di jalan ganesha. Tidak menyangka masih bisa merasakan suasana seperti ini setelah menghadapi sibuknya (iya gitu sibuk?😛 ) dunia kampus.

Kali ini, tugas yang diberikan kepadaku sangat teknis dan menantang:

jadi tim konsumsi bersama dengan 2 orang teman lainnya, plus 1 teteh sebagai koordinator tim alias koki utama. Kenapa menantang? Yup, kami harus menyediakan makan pagi, siang, malam untuk 70 orang, ditambah makanan ringan setiap ada pemberian materi. Oya, satu lagi, nyiapin souvenir untuk pemateri, yang jumlahnya sekitar 10-12 orang. Yang harus kami siapkan banyak banget, mulai dari peralatan masak (kompor gas, wajan, panci, blender, dsb) yang harus dipinjem dari sana sini, rancangan menu, bahan-bahan, sampe bungkus kado untuk souvenir.

Di sini, kami menyewa tempat di sebuah pesantren. Dan untuk tim konsumsi, kami harus memasak di dapur para santri. Ini yang seru. Karena ternyata satu kompor gas tidak cukup, kami akhirnya ikut masak di kompornya santri yang masih pake kayu. Setiap hari, sekelompok santri yang berusia sekitar kelas 1 SD sampe SMP harus menyiapkan makan secara bergantian. Wuih, keren lah mereka. Kami diajari cara menyalakan kompor kayu, menjaganya supaya tetap hidup, sampe diberi tips saat masak nasi dalam panci yang super gede. Kayaknya, aku bisa masuk ke situ. Pengaduknya aja sekitar satu meter tingginya. Mereka sudah terbiasa dengan mata yang pedih akibat asap dan panasnya dapur kecil itu, sampai-sampai ada kalimat yang terlontar dari salah seorang santri kecil: “Ini mah belum apa-apa dibandingin neraka…”

Setiap hari kami harus belanja berkarung-karung bahan makanan ke pasar tradisional. Asyiknya, bisa bersentuhan dengan keramahan penduduk desa dan melihat tumpukan sayur ato buah segar. Jaraknya cukup jauh dari tempat kami. Jadi, kami harus naik delman dengan membawa karung-karung itu. Kalo ngebayangin lagi, lucu rasanya…

Ternyata menyiapkan makanan itu memerlukan energi yang tidak sedikit. Di sini, kami belajar menghargai arti sesuap nasi yang kehadirannya memerlukan energi dari banyak orang. Ya, seperti Pak Raka bilang, setiap hari kita memakan nilai yang dihasilkan oleh orang lain. Bukan hanya itu, team work kami benar-benar dilatih, bagaimana membagi-bagi tugas, siapa yang ngurus nasi, masak sayur, goreng ayam, cuci peralatan masak, ato belanja ke pasar. Kalo kami lalai sedikit saja, 70 orang akan kelaparan dan training pun tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Ada kejadian lucu lagi, waktu mo pulang ke Bandung. Ceritanya tim kami sudah dalam perjalanan. Baru saja 15 menit meninggalkan pesantren itu bersama dengan tumpukan barang-barang, tiba-tiba ada telepon masuk dari panitia yang masih ada di sana:
“Bisa tunggu sebentar, katanya ada panci santri yang kebawa.”
Ha? Panci santri? Yang mana? Karena saking banyaknya peralatan masak yang ada dalam kendaraan kami saat itu, jadi bingung… Kami lihat catatan peralatan, tapi masih belum ketemu panci mana yang dimaksud. Untunglah, santri yang menyusul segera mengenalinya. Duh, malunya.. Pulang kok sambil bawa panci orang😛

Terimakasih ya Rabb, telah memberi kesempatan ini.

6 comments so far

  1. fanny on

    nopi nopi…
    critanya slalu saja jleb jleb jleb..

    di-link yah!

  2. anis on

    oops sepertinya saya juga ada di situ ya?🙂 (jadi peserta)
    iya kangen nih sama acara-acara kayak gitu.
    kangen jadi peserta, kangen juga ma euphoria jadi tukang masak penuh kegagalan😀

  3. novi on

    @fanny
    jleb jleb gmn tho mbak fan?
    ^_^

    @anis
    hmm, sepertinya begitu nis.
    waa, berarti kami gagal donk kemaren😦
    maaf ya, kalo kurang memuaskan pelayanannya…

  4. irma on

    wah kayaknya pengalaman seru, jadi sie konsumsi ternyata bukan hanya teknis soale butuh banyak perencanaan.. dan berurusan dengan perut orang banyak..
    jadi inget pengalaman training kemaren.. jadi sie konsumsi, udah gitu letaknya di desa paling ujung menuju puncak merapi, nginep di rumah kepala dukuhnya.. masak nya masih pake “hawu”..

  5. novi on

    @irma
    wah, deket merapi. pasti indah pemandangannya🙂
    iya moy, kami jg masih pake hawu. asa kumaha kitu…

  6. kceydloaz on

    opi, saat kamu memasak, apakah sudah memastikan bahwa not a single sweat run into your cooking ?[hehehehehe….]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: