Pekan Reuni

Bertemu (secara kopi darat) dengan orang-orang dari masa lalu memang menyenangkan 😀

Selalu diawali dengan teriakan, hey… ini … ? Ya ampun, apa kabar? Sekarang di mana?

Berlanjut dengan obrolan ringan dan terkadang  sampai ke topik masalah kehidupan. Tidak ada basa basi, dan berusaha tidak bertanya dengan pertanyaan standar yang biasa muncul kalau lebaran.

Banyak kisah yang bisa diambil dari cerita yang didapat, tentang istiqomah, tentang cinta, tentang makna hidup, tentang takdir,…

 

 

 

Advertisements

Just share

4b718ca3-8ce1-4fa1-9b44-319e2b7eabe1

And the comments are:

  1. Keberkahan hidup orang2 terdahulu.. Sedikit makan, sedikit tidur.. Sedikit gurau, sederhana dlm hidup tapi berkah dlm amalan dn karya..
  2. Orang dulu, sedikit makan, kita sedikit sedikit makan, orng dulu sedikit tidur.. Kita sedikit sedikit tidur..
  3. Kebutuhan perut mereka zaman dulu dengan kita zaman sekarang apa beda ya? kok kayaknya zaman dulu bisa nulis segitu banyak buku tanpa khawatir anak istri laper.
  4. Imam Nawawi rahimahullah, makan sekali bada Isya.
    Mengisi pelajaran Dien sbyk 12x ta’lim per hari. Beliau menulis dan terus menulis…jika mengantuk, naruh pena tapi ttp dlm posisi menulis…jika tiba2 trbangun, beliau langsung menulis karya lagi…
  5. Ada buku bagus “Manajemen waktu para ulama”.
    Tdk trlalu tebal.
    Bs dibaca sekali duduk.
    Tapi implementasinya blm tentu sehari lgs bisa.

Evaluasi

Selalu suka sekali dengan kisah ini, sebagai pengingat untuk diri yang sering lupa muhasabah.

ALKISAH, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya, ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.

“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Pelajaran penting dari kisah di atas adalah usaha seorang Atha` yang jeli melakukan introspeksi diri, menyadari kelemahan, dan kekurangannya. Seiring akan datangnya Tahun Baru Islam 1433 H, kita pun perlu melakukan evaluasi: sudah sejauh mana amal, ilmu, dan akhlak kita selama ini. Perasaan puas dengan apa yang telah kita kerjakan harus kita kubur dalam-dalam, sebab masih masih banyak ‘PR’ yang perlu dituntaskan.

kelanjutannya di https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2011/11/25/2013/bermuhasabah-sebelum-hari-penghisaban.html

Wahai, Novi

Keraslah terhadap diri sendiri, dan lunaklah terhadap orang lain.

Jangan ditukar, jadilah manusia tangguh.

Jika tertiup angin, bukan patah tapi meliuk mengikuti arahnya.

Perjalanan baru

Perjalanan baru telah dimulai,

Ini bukan segalanya, ini bukanlah tujuan

Ini tetaplah menjadi perjalanan

Menuju apa?

Menuju kedewasaan diri,

menuju pengenalan diri,

menuju ilmu yang hakiki,

dan yang utama adalah menuju-Nya

Bismillah…

Jalan pagi

Setelah sekian lama tidak berolahraga, akhirnya kemarin berhasil merealisasikan jalan-jalan pagi bersama satu pasukan 😀 Melewati jembatan kecil, pematang sawah, jalan kecil dan berlubang. Kadang tertawa, kadang ada yang merengek, bahkan ada yang menangis. Tertawa saat lomba lari, merengek minta jajan, menangis karena diingatkan tidak berhenti di tengah jalan. Semua menjadi warna-warni, seperti warna bunga dan ilalang yang kami temui sepanjang jalan. Ada yang kuning, merah, hijau, …

Alhamdulillah, hari ini bisa jalan pagi lagi ke pasar, tapi cukup bertiga saja bersama Ayah dan U. Berangkatnya lancar, karena U mau duduk di sepedanya. Saat pulang, agak repot.  Ayah bawa dua keranjang tapi U tidak mau duduk di sepeda, maunya digendong. Akhirnya, setelah setengah perjalanan, U mau duduk manis di sepedanya.

Semoga istiqomah membangun kebiasaan olahraga di pagi hari bersama si partner.

Dari atas pesawat


10 April 2017, 12.20 WIB

Hari ini, Ibu pergi menggunakan passport untuk pertama kalinya. Terimakasih untuk semua pihak yang sudah memberikan dukungan:

  • Ayah yang mengijinkan Ibu untuk meninggalkan rumah selama kurang lebih 2 hari dan membantu segala persiapannya,
  • I, S, dan U yang telah melepas Ibu dengan ringan,
  • Mbah enti dan Mbah kakung yang sudah datang jauh-jauh untuk menemani cucu-cucunya,
  • Tim PTT Konseling yang telah bersedia untuk bekerja sama,
  • Mbak dan bude yang telah bantu membereskan urusan rumah,
  • Rekan-rekan yang telah bersedia direpoti dan dimintai tolong.

Dari atas pesawat, Ibu lihat betapa kecilnya rumah, kapal laut, jalan, sungai, … Sesuatu yang selama ini Ibu anggap besar, ternyata dilihat dari sini menjadi sangat kecil.

Sering, kita merasa sebuah masalah atau suatu hal itu besar.. berharga…, tapi ternyata itu hanya sesuatu yang kecil di mata-Nya.

Kejernihan hati dan pikiran yang bisa membedakan, memilah, memprioritaskan mana yang penting dan besar, serta mana yang sebenarnya tidak terlalu penting. Yup, waktu kita sangatlah terbatas, sedangkan kewajiban yang kita punya melebihi waktu yang kita miliki (Hasan Al-Banna). Ah, jadi teringat, karena sebegitu urgennya masalah prioritas ini, Ust. Yusuf Qardhawi sampai membuat buku tentang fiqh aulwiyat (prioritas).

Semoga kita diberikan kemampuan untuk menimbang-nimbang dengan jernih: mana yang manfaatnya lebih banyak atau lebih luas dibanding mudharatnya. Dan pastinya, mana yang lebih menyelamatkan kita sampai tujuan akhir…

Wallahu a’lam.

*Selamat bermusyawarah, karena dalam syuro itulah muncul keberkahan.*