Berkemah di Gunung Api Purba (2)

Ada dua camping ground di Gunung Api Purba Nglanggeran. Pertama, lokasinya di bawah, tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Tempatnya berupa lapangan, ada satu gazebo, dan tersedia sejumlah toilet. Yang kedua, lokasinya ada di dekat puncak, harus mendaki dulu sekitar 1.5 jam. Karena masih amatir, kami memilih lokasi pertama.

Sampai di lokasi, sudah ada sekelompok pemanjat tebing yang mendirikan tenda. Ada yang pakai gazebo juga. Kami memilih tempat di bagian yang sedikit lebih tinggi, di bawah tebing. Ayah mendirikan tenda dibantu (direcokin) anak-anak :)), dan Ibu memasak pakai kompor mini. Sekitar jam 4an, tenda berhasil berdiri, semua sudah makan. Kenyang.

Next, saatnya untuk mendaki. Jalur hiking-nya enak, melewati batu-batu besar,  berjalan di bawah celah-celahnya. Yang cukup menantang adalah waktu lewat celah sempit antara dua batu besar sambil naik tangga kayu. Banyak tempat pemberhentian untuk foto-foto. Kami mendaki sampai Pos 2. Di sini, kami disuguhi pemandangan yang indah. Matahari mau terbenam. Sampai jam 5 lebih, kami duduk-duduk di sana sambil makan pepaya. Salman sebenarnya pengen lanjut ke atas, kabarnya ada danau yang indah banget. Tapi karena khawatir terlalu malam, dan dek umar nanti ga kuat, akhirnya diputuskan kembali ke camping ground. 

Setelah ishoma, Ayah buat api unggun. Anak-anak nonton di HP (tetep…), Ibu beres-beres bekas makan. Sampai jam 9-an, para pemanjat tebing masih banyak yang naik. Anak-anak tidur cepat karena capek. Ayah tidur di sleeping bag di luar tenda karena sempit.

Pagi-pagi, bangun dan sarapan, beres-beres tenda dan perlengkapannya. Setelah semua bersih, saatnya check out. Lanjut ke embung nglanggeran, tidak jauh dari gunung api. Embung ngalenggeran adalah waduk yang dibuat di atas sebuah bukit, dan di sekelilingnya ada kebun durian. Tapi sayang pas bukan musim panen durian. Di sana ada pabrik coklat, hasil produksinya yang bisa kita beli: coklat batangan, keripik pisang coklat, coklat bubuk, dll.  Seluruh pengurus tempat wisata di Nglanggeran ini penduduk setempat. Begitu juga dengan penjual makanan dan suvenirnya.

 

Berkemah di Gunung Api Purba

Saat libur lebaran kemarin, Ayah tiba-tiba mengajak berkemah di Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul DIY. Semua langsung bilang: mauuu..

Setelah itu, kami langsung bagi-bagi tugas untuk menyiapkan perlengkapan berkemah. Ayah pinjam tenda dan printilannya. Ibu menyiapkan kebutuhan konsumsi. Anak-anak diberi tugas menyiapkan mainan, buku, baju, dll.

Setelah semua siap, kami langsung berangkat dari rumah sekitar jam 11. Ternyata.. jalanan macet. Dari jalan Klaten-Yogya mau belok kanan ke arah Gunung Kidul, semua ditutup. Akhirnya bisa belok kanan entah di mana. Jalannya kecil, tapi pemandangannya bagus. Alhamdulillah. Jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Mulai ketemu batu-batu di pinggir jalan yang ukurannya besar-besar.

Akhirnya sampai di lokasi wisata Gunung Api Purba sekitar jam 14. Ayah bilang ke petugas parkir bahwa mau berkemah dan diberi tempat parkir yang aman. Tantangan pertama adalah membawa perlengkapan kemah ke atas. Baju ada di koper, perlengkapan konsumsi ada di tas belanja :)) Di parkiran, kami packing ulang beberapa barang supaya bisa dibawa di atas. Setelah ayah beli tiket, kami mulai perjalanan ke atas dengan membagi-bagi bawaan. Salman kebagian bawa tas isi buku dan mainan. Kak Izza bawa ransel kecil. Dek Umar bawa bantal.

bersambung…

Bunda, Ibu, Mamak

Tiga anak, tiga panggilan

Sulung manggil bunda

Tengah manggil ibu

Bungsu manggil mamak

Awalnya, kak izza pertama kali manggil ibu. Waktu masuk SD berubah jadi bunda ikut temen-temennya. Kalau mas salman dari awal sampai sekarang tetap konsisten panggil ibu. Dek umar awalnya panggil bunda, terus sering denger abang (tetangga sebelah rumah) panggil mamak, jadinya ikut-ikutan. Diminta panggil mama (ga pake ‘k’) kadang inget, tapi seringnya lupa.

Lucunya… Kalau tambah lagi, kira-kira panggil apa ya? umi, simbok, emak, …

Jalan jalan di Magelang

Alhamdulillah, saat akhir pekan panjang di pertengahan bulan Maret kemarin, kami sekeluarga piknik ke Magelang. Kami menginap di Hotel Puri Asri, bermain di Taman Kyai Langgeng, melihat matahari terbit di Puthuk Setumbu dan pergi ke Borobudur.

Total peserta jalan-jalan ada 8 dewasa dan 8 anak anak. Pesan makan menjadi momen heboh, apalagi kalau menunya ala carte.

Ini foto foto kenangan yang manis untuk disimpan

   


 

Umar Kayam

Menemukan blog ini serasa menemukan harta karun di tengah lautan :))

Meski sudah baca beberapa kali buku Mangan Ora Mangan Kumpul, tetapi tetap saja nikmat rasanya membaca kumpulan kolom dari Umar Kayam itu. Selain Mangan Ora Mangan Kumpul, saya pernah membaca buku beliau yang lain yaitu Kunang-kunang di Langit Manhattan, Sugih Tanpa Bandha, dan Para Priyayi. Tapi kisah Pak Ageng adalah juaranya 😀

Qadarullah, saat ini saya cukup sering melewati daerah-daerah yang disebutkan Umar Kayam di bukunya. Setiap kali melintas di deretan perumahan dosen di Sekip, saya selalu menerka-nerka mana rumahnya Pak Ageng, mana halaman rumput yang selalu dipelihara dengan baik oleh Mister Rigen, dll. Pun saat pulang ke Wonogiri dan melewati Pracimantoro, saya sering bertanya-tanya mana ya jalan ke arah kampung halamannya sang dirjen kitchen cabinet, Mister Rigen. Setiap malam, di depan RS Panti Rapih masih berdiri tegak warung tenda Bakmi Jumpa Pers di mana Mister Rigen biasa mentraktir Miss Nansiyem, Beni Prakosa dan thole thole Septian.

Makanan sehari-hari

Dari kiri ke kanan:

  1. Sarapan di rumah: oatmeal, ikan fillet, brokoli, tomat, timun
  2. Makan siang di kampus: jagung, tahu, timun, labu siam
  3. Makan sore pulang dari kampus: nasi putih, ayam crispy Olive (only 7K IDR)
  4. Makan siang di kampus: nasi merah, telur asin, tahu, sayur pakis, timun

Saya sedang berusaha membiasakan untuk makan dan masak dengan menu praktis, sehat, mudah didapat, dan memenuhi budget. Untuk masak pagi, diusahakan cukup banyak menunya karena sekalian dengan makan siang. Selain menghemat waktu, membawa bekal makan siang adalah cara untuk tetap terjaga dari gorengan atau kerupuk (dua makanan favorit ^_^)

Tapi beberapa kali, pernah juga saya lapar banget waktu pulang dari kampus karena bekal makan siang yang sepertinya terlalu rendah kalori, dan akhirnya mampir warung… beli karedok, ayam goreng, atau sate kambing :))

Ilmu Waris

Beberapa waktu ke belakang ini, kami mencoba memahami masalah ilmu waris dari Buku Panduan Praktis Hukum Waris karangan Muhammad bin Shalih Al-utsaimin. Setelah membeli buku ini, langsung saya foto bagian belakang buku yang berisi motivasi pentingnya mempelajari ilmu waris. Penulis mengingatkan kembali mengenai kewajiban seorang muslim dalam membagi warisan dan tantangan yang biasa ditemui.

Membagi warisan adalah fardhu kifayah bagi setiap muslim. Beberapa tantangan dalam melaksanakan ibadah ini adalah:

  1. Harus memahami perhitungan ilmu waris
  2. Harus siap menghadapi berbagai konflik dan pertentangan di antara ahli waris
  3. Harus siap mengubah wasiat dari pewaris yang isinya tidak sesuai syariat

Secara umum, buku ini disusun mengikuti kaidah akademik, dimulai dari definisi, dan disertai dengan contoh-contoh kasus. Pada bagian awal, disajikan pembahasan tentang klasifikasi ahli waris karena ikatan pernikahan, keturunan ke atas (orang tua, kakek-nenek, buyut, dst) dan ke bawah (anak, cucu, dst), serta hubungan ke samping (adik-kakak, keponakan, dst). Setelah itu, masuk ke beberapa contoh kasus pembagian waris. Yang cukup panjang dibahas adalah mengenai kehadiran kakek dan saudari kandung sebagai ahli waris karena terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai hal ini. Untuk menambah pemahaman pembaca, penulis memberikan ilustrasi berupa diagram yang menjelaskan pembagian persentase dan klasifikasi ahli waris. Secara umum, buku ini bagus untuk dibaca bagi setiap muslim yang ingin mempelajari ilmu waris dari nol. Recommended!