Jalan pagi

Setelah sekian lama tidak berolahraga, akhirnya kemarin berhasil merealisasikan jalan-jalan pagi bersama satu pasukan 😀 Melewati jembatan kecil, pematang sawah, jalan kecil dan berlubang. Kadang tertawa, kadang ada yang merengek, bahkan ada yang menangis. Tertawa saat lomba lari, merengek minta jajan, menangis karena diingatkan tidak berhenti di tengah jalan. Semua menjadi warna-warni, seperti warna bunga dan ilalang yang kami temui sepanjang jalan. Ada yang kuning, merah, hijau, …

Alhamdulillah, hari ini bisa jalan pagi lagi ke pasar, tapi cukup bertiga saja bersama Ayah dan U. Berangkatnya lancar, karena U mau duduk di sepedanya. Saat pulang, agak repot.  Ayah bawa dua keranjang tapi U tidak mau duduk di sepeda, maunya digendong. Akhirnya, setelah setengah perjalanan, U mau duduk manis di sepedanya.

Semoga istiqomah membangun kebiasaan olahraga di pagi hari bersama si partner.

Dari atas pesawat


10 April 2017, 12.20 WIB

Hari ini, Ibu pergi menggunakan passport untuk pertama kalinya. Terimakasih untuk semua pihak yang sudah memberikan dukungan:

  • Ayah yang mengijinkan Ibu untuk meninggalkan rumah selama kurang lebih 2 hari dan membantu segala persiapannya,
  • I, S, dan U yang telah melepas Ibu dengan ringan,
  • Mbah enti dan Mbah kakung yang sudah datang jauh-jauh untuk menemani cucu-cucunya,
  • Tim PTT Konseling yang telah bersedia untuk bekerja sama,
  • Mbak dan bude yang telah bantu membereskan urusan rumah,
  • Rekan-rekan yang telah bersedia direpoti dan dimintai tolong.

Dari atas pesawat, Ibu lihat betapa kecilnya rumah, kapal laut, jalan, sungai, … Sesuatu yang selama ini Ibu anggap besar, ternyata dilihat dari sini menjadi sangat kecil.

Sering, kita merasa sebuah masalah atau suatu hal itu besar.. berharga…, tapi ternyata itu hanya sesuatu yang kecil di mata-Nya.

Kejernihan hati dan pikiran yang bisa membedakan, memilah, memprioritaskan mana yang penting dan besar, serta mana yang sebenarnya tidak terlalu penting. Yup, waktu kita sangatlah terbatas, sedangkan kewajiban yang kita punya melebihi waktu yang kita miliki (Hasan Al-Banna). Ah, jadi teringat, karena sebegitu urgennya masalah prioritas ini, Ust. Yusuf Qardhawi sampai membuat buku tentang fiqh aulwiyat (prioritas).

Semoga kita diberikan kemampuan untuk menimbang-nimbang dengan jernih: mana yang manfaatnya lebih banyak atau lebih luas dibanding mudharatnya. Dan pastinya, mana yang lebih menyelamatkan kita sampai tujuan akhir…

Wallahu a’lam.

*Selamat bermusyawarah, karena dalam syuro itulah muncul keberkahan.*

Mengerjakan PR

  • Situasi: Siap-siap pergi berenang. Hari mulai siang, tapi ga berangkat-berangkat.
  • Pikiran: Kok ga ada yang bantuin siap-siap
  • Perasaan: Sebal
  • Fisik: Pusing gliyer-gliyer
  • Situasi: Pulang istirahat siang dan S mau pinjam HP
  • Pikiran: S udah kebanyakan main game
  • Perasaan: Sebal, cemas dan takut S nanti kecanduan game
  • Fisik: Pusing sakit kepala
  • Situasi: Pulang mengajar di hari sabtu
  • Pikiran: Puas dengan kelas
  • Perasaan: Senang….
  • Fisik: Rileks….
  • Situasi: Pulang sidang pendadaran mahasiswa bimbingan, dan hasilnya ga terlalu memuaskan
  • Pikiran: Saya ga cocok jadi dosen
  • Perasaan: Kecewa dengan diri sendiri
  • Fisik: Pusing….

Mengenali Diri

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hari ini saya tidak masuk kampus, ada kejadian yang tidak menyenangkan (dan merusak mood) di pagi hari. Akibatnya, secara fisik saya merasa pusing berat, berdenyut-denyut seluruh kepala. Psikosomatis banget. Akhirnya, kelas saya online-kan. Ini bukan sekali dua kali saya alami, dan setelah merenung, ini hadir karena feeling guilty. Merasa bersalah karena akan meninggalkan anak-anak untuk ke kampus, di sisi lain, merasa bersalah karena belum menyiapkan materi untuk perkuliahan dengan maksimal.

Hasil deep talk dengan ayah semalam, kesimpulannya:

  • Belajar menghargai apa yang sudah dilakukan, be proud with your achievement.
  • Kita adalah keluarga, we are a team. Saya berkontribusi di kampus, bukanlah murni capaian saya saja tapi hasil kontribusi satu keluarga.
  • Tugas utama saya adalah sebagai Istri-Ibu, oleh karenanya berbahagialah atas segala capaian yang sudah diperoleh untuk menuntaskan kewajiban (meski tidak rutin) itu: minta ijin jika mau keluar rumah, memberikan ASI untuk ketiga anak saya, memberikan asupan gizi sesuai kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki, membacakan buku sebelum tidur, membersamai I dalam aktivitas TMH(Tahsin-Muraja’ah-Hafalan), mengantar S ke sekolah, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah….
  • Tugas saya yang lain adalah sebagai seorang anak dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang mulai masuk senjakalanya. Alhamdulillah, bisa memantau kondisi kesehatan beliau-beliau, mengantarkan kontrol rutin ke dokter, membantu kesulitan mereka sebisanya.

Terimakasih, atas semuanya ya Rabb…

Annur 31

Menyerap kembali tentang menjaga pandangan dan menutup aurat ternyata tidak pernah basi, selalu relevan. Materi yang sering muncul di awal-awal mentoring atau kajian keputrian ternyata juga seharusnya muncul juga di pengajian ibu-ibu, bapak-bapak.

<img src=”http://tafsirq.com/hero/ayat/2821/natural&#8221; class=”img-responsive” />

 

Semangat pakai jilbab mengulur ke dada, manset, kaus kaki,
Semangat menundukkan pandangan,
Rapat dengan posisi yang khas,

Bismillah…

Dalam Doaku

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”, copy paste dari https://debuterbang.wordpress.com/2007/10/20/dalam-doaku-poems-by-sapardi-djoko-damono/)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Memilih

Kemarin baru saja saya baca:

“Bagi saya, hidup yang menyenangkan adalah hidup yang bisa memilih. Bagi dia, hidup yang menyenangkan adalah hidup yang bagaimanapun selalu dilewati dengan sabar dan syukur.”

Dua pandangan tentang hidup yang cukup berbeda ya.

Saya lebih cenderung memilih yang kedua. Kenapa? karena buat saya yang sering galau, memilih itu sering membingungkan. Galaunya ga habis-habis, kadang mereda terus muncul lagi. Hadeuh.

Oleh karena itu, target saya sekarang adalah:

  1. Lebih banyak makan yang enak-enak
  2. Lebih sering baca dan nonton yang saya suka
  3. Lebih sering menulis

Bismillah…