Minyak angin

Seiring bertambahnya usia, barang yang dulu tidak penting tapi sekarang menjadi penting adalah:

  • minyak angin atau minyak aroma terapi seperti F*eshCa*e atau saingannya, Sa*eCa*e. Pusing-pusing, pegel-pegel, mual-mual, tinggal oles di leher, atas alis 😀
  • Sunscreen
  • teh aneka rasa buat nge-teh habis subuh. sekarang baru koleksi lemon tea, green tea, black tea, mau nambah blackcurrent, strawberry, jeruk purut, mint tea 😀
Advertisements

Sudut pandang

Menarik (dan mengerikan) sekali memang tentang masalah sudut pandang ini. Dan bagiku, yang terkadang harus (iya, diriku yang mengharuskan) melihat dari dua sisi, tiga sisi, membuatku senang bermain-main dengan cara orang lain memandang terhadap suatu kejadian, peristiwa, bahkan satu kalimat 😀

Kalau dipikir-pikir, kok ya kompleks banget ya manusia itu. Dengan semua kelengkapan yang Allah SWT berikan: kemampuan bahasa, logika, memori jangka panjang, memori jangka pendek, abstraksi, dan masih banyak lagi yang lainnya, manusia bukan hanya bisa menghasilkan begitu banyak penemuan budaya, teknologi, seni, tapi juga menyebabkan begitu banyak kehancuran 😦 Na’udzubillah…

Kembali ke masalah sudut pandang, seringkali kita menilai sudut pandang orang lain dengan kacamata kita. Kacamata kita dibentuk dari mana? Dari memori masa lalu kita, dari apa yang kita pelajari, dari apa yang kita dapatkan, dll. Dan hal itu sering menimbulkan masalah yang besar, mengerikan, dan menghancurkan. Contohnya, pada polemik Jerussalem dari sudut pandang Amerika yang diambil dari [1].

Sejak perjalanan pertama Christopher Colombus ke benua baru itu, yang disusul perjalanan kedua, cerita-cerita tentang dunia baru (Amerika) di kalangan warga dunia lama (Eropa) beredar seperti legenda dan khurafat: Amerika adalah “Tanah yang Dinjanjikan (the promised land)” yang sesungguhnya; luas tanahnya cukup untuk siapapun, tanahnya mengandung apapun yang diinginkan bahkan lebih, dan yang penting, benua baru itu adalah tanah yang tanpa pemilik – tidak ada gerejanya – tidak ada kaum feodalnya – tidak ada hukum/undang-undangnya – dan tidak ada polisinya. Pendek cerita, dunia baru itu adalah sebuah padang yang terbuka bagi siapapun yang berani menyeberangi Atlantik, dan mampu mengelola dan menjaga batas tanah miliknya, yang tiap hari bisa diperluas dan diperlebar.

Mengacu pada logika seperti itulah, seorang Presiden cerdas seperti Bill Clinton akhirnya berkesimpulan bahwa adalah penting bagi orang Arab untuk menyerahkan Jerusalem kepada Israel. Namun jika bangsa Arab dan juga kaum Muslim bersikeras  bahwa “Jerusalem adalah milik Arab”, maka mereka bisa mengubah nama sebuah kampung di balik gunung Jerusalam, yaitu Abu Dis, untuk dinamai Jerusalem. Keunggulan Abu Dis karena berjarak beberapa kilometer dari Jerusalem yang asli. Bill Clinton lalu menambahkan, orang Amerika sudah sering melakukan hal semacam itu: di Amerika banyak sekali kota yang dinamai kota Jerusalem, kota Cairo, kota Alexandria dan kota Beirut.

Namun, Alhamdulillah, harapan itu selalu ada. Manusia dianugerahi kemampuan untuk selalu belajar, bertumbuh. Kita, manusia, selalu berharap akan masa depan yang lebih baik, sehingga kita tak kenal lelah untuk mempelajari semua rahasia alam semesta dan isinya. Kita selalu bisa menunda keinginan untuk melihat hasil perbaikan pada suatu jarak waktu tertentu.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. 12:87)

Ref:

[1] https://www.kompasiana.com/sabdullah/5a912b10bde5756e1b535fd2/12-kunci-untuk-memahami-watak-amerika-dan-warga-amerika

No title

Ya Rabb,

Bantu hamba untuk selalu menempatkan-Mu di atas segalanya

Di atas rasa cinta kepada keluarga

Di atas rasa cinta kepada rasa ingin tahu

Di atas rasa cinta kepada benda

Di atas rasa cinta kepada diri

Beautiful words

Blog-ku, nitip nyimpen supaya bisa dibaca lagi ya.. hehehe

Postingan dari dianarikasari (https://www.instagram.com/p/BfV2Z4CnaEj/?hl=en&taken-by=dianarikasari):

Today my beautiful Daria vomited because I insisted for her to finish her carrots. She actually ate her carrots just fine, but as a mom, I always have that feeling where I will only feel happy feeding my kids if I see their plates perfectly clean and empty afterwards. But I guess this time I fed her more than she could take and I simply overdid the portion. I should have stopped but I didn’t.
.
Motherhood is never an easy task because I personally feel it gets very.. personal. You sometimes get confused whether what you’re doing is for your kid’s sake or actually for your own. It’s also because motherhood is very exhausting that us mothers tend to always try to make ourselves feel ‘good’ by doing what WE think is right but very often neglecting how THEY feel. Lack of reward? Maybe. Or maybe because we just feel that no reward is ever enough for what we have gone through during pregnancy and giving birth and everything that comes after therefore we always want to put OUR feelings first than others.
.
Can we ever stop feeling this way? I don’t know. Some can, some can’t, some won’t. After being a mother for the past 4 years to two children, here is what I have learned so far:
1. “Mothers know best”. Nope. A lot of mothers are clueless, including myself. I do believe in the power of a “mother’s intuition”, but even intuitions can go wrong. Mothers are simply best when they are open minded and willing to learn about being a mother itself; by reading books, articles, joining mom groups, consulting with experts, seeking opinions from family and friends. And even after all that learning, we’ll still make mistakes. It’s okay. Don’t be stubborn and think we always have to be right.

(continued in the comment section below)

2. There is no such thing as a supermom. We’re all just moms trying to raise our kids in our own pace and capacity. Working / not working, natural birth / gentle birth / c-section, breastfeed / formula milk, nanny / no nanny, spoon-fed weaning / baby-led weaning, disposable diapers / cloth diapers, (and the list goes on), WE HAVE OUR OWN REASONS. Let’s not make this decisions cloud our life forever and make us judge other mothers more or less. My friends often tell me that I’m such a ‘supermom’ for being able to work and still take care of the kids all by myself while my hubby is away. But you see: 1) I had a such a bad migraine on my 2nd night that I had to take 3 paracetamols and even that didn’t help so I just forced myself to sleep, 2) I fell asleep while I was playing with both of my kids on the bed and woke up 30 minutes later only to find them still lying next to me peacefully (thank God no one fell off the bed, really), 3) it’s the 4th day since hubby left and today I woke up with no voice already. I am THAT tired. So it’s not about being ‘super’. It’s just about sucking it all up because you have no other choice or because we decided to take up the challenge. That’s all.
3. Focus on our children’s happiness, not on tiny milestones that won’t even matter when they grow up. Have you heard the story of an employer interviewing a candidate where he asked, “when did you start walking?” and “at what age did you start reading?”. Never? Because there’s no such story. These things that we unconsciously compete with other mothers on, they won’t matter. Motherhood is not a competition and our children’s milestones are not too.
4. Be kind to other mothers. Mothers have gone through enough and we don’t need more drama by having mean moms around us. If you feel depressed because other mothers’s seem to be bullying you, open up. Share about it. Don’t keep it to yourself. And if you’re the bully, just don’t. Learn to mind your own business.
.
Make every day your own kind of Mother’s Day where we feel happy for being one in our own way. And never stop learning.

Buka FB

Setelah lama ga buka akun FB sendiri (biasanya buka FB punya suami, hihi) sambil dengerin Enya, tiba-tiba hangat menyelusup, titik-titik air tiba-tiba jatuh di pipi

Membuka newsfeed yang diisi orang-orang dari masa lalu, ibu-ibu kampus gadjah yang …

Ada teteh hebat yang posting kesibukannya, ada teteh baik hati yang posting foto liburan, ada teteh dari bandung yang posting jualan, ada teteh lembut yang posting panjang diakhiri minta maaf kalau ada postingan yang salah, ada teteh pembicara yang posting iklan seminar tentang keluarga.

Bahkan hanya lihat foto profil ibu-ibu, teteh-teteh itu, bikin tambah nangis. Kenapa nangis? Bingung juga, ga tau kenapa. Terharu, bangga dengan segala kerendahhatian mereka, kangen masjid salman, kangen dimentoring-in, kangen diajakin rapat jam 6 di kortim/korut, kangen bukom Mata’, kangen kantin salman.

Ya, saya ada di titik ini, mengapa saya begini, mengapa saya begitu, mungkin karena di alam bawah sadar saya tersimpan memori hasil interaksi dengan mereka (pada suatu tempat dan momen yang telah Allah SWT takdirkan).

 

 

Belajar lagi tentang Pengujian Perangkat Lunak

Dalam siklus pengembangan perangkat lunak, terdapat sebuah tahap yang disebut dengan pengujian perangkat lunak. Berdasarkan definisi SWBOK, (pelan-pelan bacanya ya…) pengujian perangkat lunak merupakan verifikasi dinamis untuk menentukan apakah suatu program memiliki himpunan perilaku/luaran terbatas yang diharapkan muncul saat diberi himpunan terbatas input kasus uji yang dipilih dari domain eksekusi yang tidak terbatas.

Selanjutnya, konsep-konsep utama terkait dengan definisi pengujian perangkat lunak tersebut akan dijabarkan pada narasi berikut.

  • Dinamis: Pengujian dilakukan dengan mengeksekusi program pada himpunan masukan tertentu. Input yang sama mungkin akan menghasilkan perilaku atau luaran yang berbeda karena status program yang berbeda saat eksekusi. Misalnya, sering terjadi, oleh si A diberi input X keluar Y, tapi oleh si B diberi input X terjadi Z. Itu dapat terjadi karena ada perbedaan kondisi perangkat lunak, misal . Bagaimana dengan static technique seperti symbolic input execution, formal method, dll? Teknik tersebut dikategorikan dalam ranah ilmu Kualitas Perangkat Lunak. So, tidak akan kita bahas ya.
  • Terbatas: Seluruh kombinasi masukan/kasus uji tidak mungkin dapat diverifikasi sehingga muncul konsep manajemen risiko dan prioritas. Misal, suatu form menerima string nama yang terdiri dari karakter dan spasi, kombinasi yang dihasilkan akan banyaaaakkk sekali, jadi harus dipilih input tertentu yang mewakilinya.
  • Diharapkan: Setelah kasus uji dieksekusi oleh perangkat lunak, maka perlu diobservasi apakah perilaku/luaran sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Oleh karena itu, diperlukan suatu entitas/oracle yang dapat melakukan hal tersebut berdasarkan SRS yang tidak ambigu, model analisis dan desain serta kode program. Oracle dapat berupa SDM/tim penguji atau program lain. Jadi, oracle di sini bukan nama vendor basisdata ya. Hehehe. Jika entitas yang yang bertindak sebagai oracle adalah berupa program lain, maka dapat terjadi testing-ception 😀
  • Dipilih: Kasus uji dipilih berdasarkan kriteria Oleh karena itu, perbedaan kriteria akan menyebabkan himpunan kasus uji yang dipilih. Pertanyaan yang muncul adalah apa kriteria yang terbaik? Bagaimana menentukan kriteria yang terbaik?

Tujuan pengujian perangkat lunak bisa dibagi menjadi dua hal yang sangat berbeda secara filosofis yaitu:

  • menemukan kecacatan pada perangkat lunak à mencari-cari kesalahan
  • mendemonstrasikan bahwa perangkat lunak memenuhi spesifikasi kebutuhan yang telah didefinisikan à menunjukkan bahwa yang dilakukan sesuai dengan aturan

Pengujian perangkat lunak tidak akan bisa dilakukan secara lengkap, dalam artian menemukan seluruh kecacatan pada perangkat lunak  dan mendemonstrasikan seluruh kemungkinan masukan apakah memenuhi spesifikasi kebutuhan atau tidak. Oleh karena itu, pengujian perangkat lunak merupakan suatu strategi untuk mengelola risiko yang dapat muncul dalam perangkat lunak. Risiko yang dimaksud adalah risiko fault, failure,defect, bug. Apa perbedaan ke-empatnya? Nantikan di tulisan yang akan datang, hehehe. Kayak ada yang baca aja.

“Program testing can be used to show the presence of bugs, but never to show their absence” (Djikstra)

 

 

Pekan Reuni

Bertemu (secara kopi darat) dengan orang-orang dari masa lalu memang menyenangkan 😀

Selalu diawali dengan teriakan, hey… ini … ? Ya ampun, apa kabar? Sekarang di mana?

Berlanjut dengan obrolan ringan dan terkadang  sampai ke topik masalah kehidupan. Tidak ada basa basi, dan berusaha tidak bertanya dengan pertanyaan standar yang biasa muncul kalau lebaran.

Banyak kisah yang bisa diambil dari cerita yang didapat, tentang istiqomah, tentang cinta, tentang makna hidup, tentang takdir,…