Umar Kayam

Menemukan blog ini serasa menemukan harta karun di tengah lautan :))

Meski sudah baca beberapa kali buku Mangan Ora Mangan Kumpul, tetapi tetap saja nikmat rasanya membaca kumpulan kolom dari Umar Kayam itu. Selain Mangan Ora Mangan Kumpul, saya pernah membaca buku beliau yang lain yaitu Kunang-kunang di Langit Manhattan, Sugih Tanpa Bandha, dan Para Priyayi. Tapi kisah Pak Ageng adalah juaranya 😀

Qadarullah, saat ini saya cukup sering melewati daerah-daerah yang disebutkan Umar Kayam di bukunya. Setiap kali melintas di deretan perumahan dosen di Sekip, saya selalu menerka-nerka mana rumahnya Pak Ageng, mana halaman rumput yang selalu dipelihara dengan baik oleh Mister Rigen, dll. Pun saat pulang ke Wonogiri dan melewati Pracimantoro, saya sering bertanya-tanya mana ya jalan ke arah kampung halamannya sang dirjen kitchen cabinet, Mister Rigen. Setiap malam, di depan RS Panti Rapih masih berdiri tegak warung tenda Bakmi Jumpa Pers di mana Mister Rigen biasa mentraktir Miss Nansiyem, Beni Prakosa dan thole thole Septian.

Advertisements

Makanan sehari-hari

Dari kiri ke kanan:

  1. Sarapan di rumah: oatmeal, ikan fillet, brokoli, tomat, timun
  2. Makan siang di kampus: jagung, tahu, timun, labu siam
  3. Makan sore pulang dari kampus: nasi putih, ayam crispy Olive (only 7K IDR)
  4. Makan siang di kampus: nasi merah, telur asin, tahu, sayur pakis, timun

Saya sedang berusaha membiasakan untuk makan dan masak dengan menu praktis, sehat, mudah didapat, dan memenuhi budget. Untuk masak pagi, diusahakan cukup banyak menunya karena sekalian dengan makan siang. Selain menghemat waktu, membawa bekal makan siang adalah cara untuk tetap terjaga dari gorengan atau kerupuk (dua makanan favorit ^_^)

Tapi beberapa kali, pernah juga saya lapar banget waktu pulang dari kampus karena bekal makan siang yang sepertinya terlalu rendah kalori, dan akhirnya mampir warung… beli karedok, ayam goreng, atau sate kambing :))

Ilmu Waris

Beberapa waktu ke belakang ini, kami mencoba memahami masalah ilmu waris dari Buku Panduan Praktis Hukum Waris karangan Muhammad bin Shalih Al-utsaimin. Setelah membeli buku ini, langsung saya foto bagian belakang buku yang berisi motivasi pentingnya mempelajari ilmu waris. Penulis mengingatkan kembali mengenai kewajiban seorang muslim dalam membagi warisan dan tantangan yang biasa ditemui.

Membagi warisan adalah fardhu kifayah bagi setiap muslim. Beberapa tantangan dalam melaksanakan ibadah ini adalah:

  1. Harus memahami perhitungan ilmu waris
  2. Harus siap menghadapi berbagai konflik dan pertentangan di antara ahli waris
  3. Harus siap mengubah wasiat dari pewaris yang isinya tidak sesuai syariat

Secara umum, buku ini disusun mengikuti kaidah akademik, dimulai dari definisi, dan disertai dengan contoh-contoh kasus. Pada bagian awal, disajikan pembahasan tentang klasifikasi ahli waris karena ikatan pernikahan, keturunan ke atas (orang tua, kakek-nenek, buyut, dst) dan ke bawah (anak, cucu, dst), serta hubungan ke samping (adik-kakak, keponakan, dst). Setelah itu, masuk ke beberapa contoh kasus pembagian waris. Yang cukup panjang dibahas adalah mengenai kehadiran kakek dan saudari kandung sebagai ahli waris karena terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai hal ini. Untuk menambah pemahaman pembaca, penulis memberikan ilustrasi berupa diagram yang menjelaskan pembagian persentase dan klasifikasi ahli waris. Secara umum, buku ini bagus untuk dibaca bagi setiap muslim yang ingin mempelajari ilmu waris dari nol. Recommended!

Minimalis

Setelah beberapa hari self-talk, merenungi berbagai nasihat dari para teladan, peristiwa, status, dlsb, saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal yang akan saya tulis di sini. Kenapa ditulis? Supaya saya selalu ingat dengan hal ini, dan kembali bersemangat jika lalai atau khilaf.

  • Deactivate account facebook. Dari dulu saya suka baca, sejak SMP (atau SD?) setiap hari baca Kompas, setiap pekan baca Bobo, novel, dkk.  Pulang sekolah, bukannya makan, malah langsung ambil koran atau majalah. Parahnya, beberapa saat ini saya jadi kecanduan baca artikel, cerbung, diskusi, di Facebook dengan topik yang beragam mulai dari resep masakan, cerita-cerita lucu, diskusi sejarah, politik, ekonomi, dll.
  • Posting 1 tulisan di blog setiap pekan. Beberapa saat ke belakang saya sempat membaca lagi artikel-artikel saya terdahulu, wah rasanya kualitas dan kuantitias tulisan saya menurun drastis sekali. Rencananya, saya akan menulis lagi di blog ini dengan tema: resep dengan bahan-bahan yang mudah didapat, cerita sehari-hari atau resensi buku.
  • Selalu mengecek tujuan dan niat dari setiap perbuatan. Misal, buka youtube, mau apa? Lihat video sacha, belajar pelafalan bahasa inggris. Buka joox, mau dengar apa? Saya harus selalu ingat bahwa setiap klik, setiap enter, akan dicatat dan dipertanggungjawabkan 🙂

Konten-konten yang saya konsumsi akan terkait dengan:

  • software testing –> metamorphic testing
  • resep makanan rendah lemak dan gula
  • tips perawatan kulit dan produknya
  • bagaimana mengajarkan akidah, akhlak dan HOTS untuk anak

 

Pursuit of Happiness

Dalam ceramahnya, Nouman Ali Khan (NAK) mengawali keheranannya terhadap American dream yang saat ini juga menjadi mimpi hampir semua orang di dunia: life, liberty, and pursuit of happiness. Selama 15 tahun, NAK merasa heran dan mencari tahu apakah di Al Quran ada perintah untuk mengejar kebahagiaan (pursuit of happiness). Akhirnya dia tidak menemukannya, Allah swt tidak pernah mengatakannya secara eksplisit.

Makan di restoran favorit, bahagia

Baca buku favorit, bahagia

Kelas kosong, bahagia

Kantor libur, bahagia

Menang undian, bahagia

Bahagia itu sederhana. Hehehe.

Tapi rasa bahagia itu akan hilang, setelah semuanya habis, hilang, selesai atau rusak. Allah memberikan banyak potensi emosi bagi manusia,  dan bahagia hanyalah salah satu saja. Oleh karena itu, NAK merasa heran jika ada yang berkata: “I just want to be happy” karena itu bukan tujuan manusia diciptakan. Manusia diciptakan untuk berjuang dalam setiap skenario yang Alloh swt berikan.

Sudah lama saya melihat video NAK dengan tema tersebut. Hari ini, saya membaca artikel The Purpose of Life Is Not Happiness, dan menemukan kutipan yang sangat relevan.

A meaning to one’s life should embrace a struggle for it is necessary to move through time believing your suffering holds a great purpose. Thus it is not a question of a meaning to life itself, but instead a meaning to the suffering endured through life.

Life without depth, without suffering is shallow and meaningless. You have to answer the deepest questions that life brings. And, by pursuing constant satisfaction you invite a hollow existence.

A purpose to life, a struggle against nature or a deep breath amid chaos is almost always more glamorous than happiness. Aldous Huxley believed that a shift in our perspective, amongst other things, is needed if we are to avoid what at this moment seems inevitable.

 

 

Trees

Membaca lagi Software testing: a research travelogue untuk kedua kalinya dan selalu terkesan dengan dua paragraf ini:

As Mary Jean’s Ph.D. students, postdoctoral advisees, close colleagues, and friends, we are humbled in taking on the task of writ- ing a Travelogue that should, indeed, be hers to write. As we re-read Mary Jean’s own words, from her Travelogue of 2000, we hear her voice clearly in our heads; and we overhear again the many conversations we had with her, about work, about life, about life’s work. We know we have been forever changed by her, and will forever feel the effects of those changes.

But of course, we are not the only persons who can say this. Mary Jean touched many lives in many ways, and helped so many people achieve a level of potential that they might not otherwise have achieved. Alex remembers something that Mary Jean said of- ten during his early years at Georgia Tech, as they were pulling all- nighters for papers or research proposals: “If anyone can do it, you can, Alex.” The way Mary Jean said this, with her genuine smile, completely captures her attitude toward people—students and collaborators in particular—and her ability to motivate and even nudge them a bit, while always doing so in a pleasant and encouraging way. Gregg recalls a day when, nearing graduation and beginning his job search, and tired of spending the bulk of his time in the lab, he told Mary Jean that he hoped to end up someplace where he could plant an orchard and grow trees. Mary Jean replied, “your students will be your trees”. And so they have been.

P.S. Kedua penulis (Alessandro dan Gregg) adalah murid  dari Mary Jean (R.I.P).

PMB

Di saat kampus sudah mulai ramai dengan berbagai kegiatan untuk menyambut mahasiswa baru, di situ saya jadi sadar dengan jatah waktu yang berkurang lagi satu semester :))