Mengenali Diri

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Hari ini saya tidak masuk kampus, ada kejadian yang tidak menyenangkan (dan merusak mood) di pagi hari. Akibatnya, secara fisik saya merasa pusing berat, berdenyut-denyut seluruh kepala. Psikosomatis banget. Akhirnya, kelas saya online-kan. Ini bukan sekali dua kali saya alami, dan setelah merenung, ini hadir karena feeling guilty. Merasa bersalah karena akan meninggalkan anak-anak untuk ke kampus, di sisi lain, merasa bersalah karena belum menyiapkan materi untuk perkuliahan dengan maksimal.

Hasil deep talk dengan ayah semalam, kesimpulannya:

  • Belajar menghargai apa yang sudah dilakukan, be proud with your achievement.
  • Kita adalah keluarga, we are a team. Saya berkontribusi di kampus, bukanlah murni capaian saya saja tapi hasil kontribusi satu keluarga.
  • Tugas utama saya adalah sebagai Istri-Ibu, oleh karenanya berbahagialah atas segala capaian yang sudah diperoleh untuk menuntaskan kewajiban (meski tidak rutin) itu: minta ijin jika mau keluar rumah, memberikan ASI untuk ketiga anak saya, memberikan asupan gizi sesuai kemampuan dan pengetahuan yang saya miliki, membacakan buku sebelum tidur, membersamai Izza dalam aktivitas TMH(Tahsin-Muraja’ah-Hafalan), mengantar Salman ke sekolah, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah….
  • Tugas saya yang lain adalah sebagai seorang anak dari Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang mulai masuk senjakalanya. Alhamdulillah, bisa memantau kondisi kesehatan beliau-beliau, mengantarkan kontrol rutin ke dokter, membantu kesulitan mereka sebisanya.

Terimakasih, atas semuanya ya Rabb…

Annur 31

Menyerap kembali tentang menjaga pandangan dan menutup aurat ternyata tidak pernah basi, selalu relevan. Materi yang sering muncul di awal-awal mentoring atau kajian keputrian ternyata juga seharusnya muncul juga di pengajian ibu-ibu, bapak-bapak.

<img src=”http://tafsirq.com/hero/ayat/2821/natural&#8221; class=”img-responsive” />

 

Semangat pakai jilbab mengulur ke dada, manset, kaus kaki,
Semangat menundukkan pandangan,
Rapat dengan posisi yang khas,

Bismillah…

Dalam Doaku

Dalam Doaku

(Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”, copy paste dari https://debuterbang.wordpress.com/2007/10/20/dalam-doaku-poems-by-sapardi-djoko-damono/)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Memilih

Kemarin baru saja saya baca:

“Bagi saya, hidup yang menyenangkan adalah hidup yang bisa memilih. Bagi dia, hidup yang menyenangkan adalah hidup yang bagaimanapun selalu dilewati dengan sabar dan syukur.”

Dua pandangan tentang hidup yang cukup berbeda ya.

Saya lebih cenderung memilih yang kedua. Kenapa? karena buat saya yang sering galau, memilih itu sering membingungkan. Galaunya ga habis-habis, kadang mereda terus muncul lagi. Hadeuh.

Oleh karena itu, target saya sekarang adalah:

  1. Lebih banyak makan yang enak-enak
  2. Lebih sering baca dan nonton yang saya suka
  3. Lebih sering menulis

Bismillah…

 

Menulis adalah membebaskan

Seharusnya menulis (blog) bagi saya adalah membebaskan:

  • perasaan yang terpendam
  • cita-cita yang tak bisa terucap
  • amarah yang meletup-letup

Jadi, menulis itu seharusnya penuh kejujuran, ga perlu jaim ya novi…

 

Keadilan

Yang sering berkelebat di pikiran saya akhir-akhir ini adalah tentang makna keadilan. Mengapa?

  •  Ada fenomena di media online, wabil khusus news feed di akun Facebook saya, yang dipenuhi status dan berita bersentimen negatif tentang suatu  kelompok, kaum, organisasi,  dll. Ada budaya saling serang, saling anti, dan saling menjelekkan.
  • Sering saya temui fenomena di kampus seperti ini: “Bu, saya minta kebijakan Ibu supaya saya bisa ikut Ujian. Kehadiran saya kurang dari 75%, di luar ijin dan sakit. Saya sering kesiangan bangun pagi, bla bla bla..”  

Saat menghadapi dua fenomena itu, yang biasanya terlintas di pikiran adalah potongan kalimat di bukunya Pak Pram –Bumi Manusia– yang sangat mengesankan bagi saya: ….berlaku adil sudah sejak dalam pikiran.. 

Adil, bagi saya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Adil berarti menjaga akal sehat saat menghadapi suatu perbedaan pendapat atau opini. Adil bukan berarti sama rata.

Di Al-Quran, ada jawabannya untuk fenomena pertama yaitu:

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Untuk fenomena kedua, prinsip keadilan yang saya gunakan adalah menempatkan konsekuensi bagi mahasiswa pada tempatnya. Saya harus adil juga kepada teman-temannya yang sudah berusaha memenuhi syarat kehadiran.

Salam Keadilan dan Kesejahteraan 😀

Bu, kenapa kita harus pusing-pusing belajar ini?

Pertanyaan spontan yang keluar dari seorang mahasiswi di kelas siang itu. Ia sedang berkutat dengan sejumlah soal latihan mengenai pemodelan bahasa formal dengan menggunakan DFA (Deterministic Finite State Automata). Ingin rasanya saya menjawab:
“Nak, sesungguhnya Ibu iri denganmu, dulu saat Ibu belajar mata kuliah ini, pertanyaan yang sama selalu terpendam dalam dada Ibu. Namun, kala itu, Ibu tak berani menanyakannya langsung kepada Bapak Dosen. Takut ditertawakan teman-teman atau bapak dosen,… Ibu salut dengan keberanianmu. “
Pada akhirnya saya hanya menjawab, kira-kira seperti ini:
“Karena ini bermanfaat untuk memahami struktur bahasa formal di komputer. Nantinya, kamu jadi paham bahwa kemampuan komputer itu ternyata terbatas. Dan, kita, manusia punya kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan komputer,”
Dan, dia pun mengangguk-angguk. Entah mengerti, entah tambah bingung.

Di pertemuan perdana awal semester, seperti rekan-rekan yang lain, biasanya saya isi dengan menjelaskan mengapa belajar ini, manfaatnya apa, dan seterusnya. Intinya, saya ingin memotivasi mereka untuk tertarik mempelajari materi pada kuliah ini. Namun, seiring berjalannya waktu, di mata mahasiswa, materi kian bertambah sulit dan rumit, banyak notasi dan simbol matematis yang membuat mata berputar-putar. Dan akhirnya, muncullah pertanyaan di atas. Untuk apa semua kerumitan ini?

Bagi saya, itulah salah satu tantangan bagi seorang pengajar atau dosen dalam melakukan pendidikan dan pengajaran. Bukan hanya mentransfer ilmu yang mungkin bisa mereka baca di buku atau internet. Memotivasi, menumbuhkan rasa ingin tahu, membangkitkan ketertarikan, sehingga saat mereka masuk kelas, mereka tidak hanya mendengarkan, mencatat dan mengerjakan latihan secara terpaksa. Ingin rasanya pertemuan setiap pekan di kelas adalah pertemuan yang dinanti-nanti, bukan sebaliknya.

Beberapa hal yang saya coba selama beberapa semester ini adalah:

  • Memberikan ulasan tentang contoh aplikasi materi di dunia nyata.
  • Memutar video yang inspiratif.
  • Meminta umpan balik mengenai perkuliahan dan meminta saran dari mahasiswa mengenai proses pembelajaran di tengah semester (pertemuan ke-8 setelah UTS)
  • Menyediakan waktu konsultasi di luar waktu kuliah. Meski belum maksimal, beberapa mahasiswa ada yang memanfaatkan ini dan memberikan hasil yang cukup baik.
  • Memberikan proyek atau tugas kelompok yang bersifat praktik.

Apakah saya berhasil? Rasanya belum maksimal. Masih banyak mahasiswa yang belum paham materi yang disampaikan, ditandai dengan rekap nilai yang berhiaskan huruf C, D, dan E. Masih banyak mahasiswa yang mengantuk saat kuliah di siang hari. Tapi, yang pasti, masih ada ruang yang luas untuk berinovasi dan memperbaiki strategi pembelajaran.

Hari itu, saya belajar dari pertanyaan seorang mahasiswi. Pekan depannya, saya belajar dari pertanyaan mahasiswa lainnya. Di akhir semester, saya belajar dari presentasi tugas besar setiap kelompok. Alhamdulillah, bahagianya menjadi dosen.