Sore itu
seperti yang sudah direncanakan, kita kan bertemu di pertigaan
dan lagi-lagi aku telat, kau sudah tiba di sana
panggilanmu mengingatkanku untuk segera beranjak
meninggalkan lingkaran yang dihiasi oleh tangisan mungil tak berdosa itu (*duh, betapa aku akan sangat merindukannya*)
setibanya di sana, kulihat sosokmu
semakin ringkih, semakin tua,
kerut di dahimu jelas bertambah, mungkin sebagian besar gara-gara ulahku
kucium tanganmu yang tak kenal lelah berkarya
sepanjang jalan, kau setia mendengar ocehanku tentang masa depan (?) yang selalu berganti.
ucapmu, “inilah hari yang sangat kunanti”
betapa sederhananya cintamu.
aku pun terlelap.
Comments(6)