Archive for January, 2008|Monthly archive page

Titipkan cita-citamu

seseorang berpesan: “titipkan cita-citamu”
dititipkan ke siapa?
kepada seorang yg kau percaya bisa meluruskanmu saat kau ingin berbelok.

istimewakah ia?
kemungkinan besar, iya.

sulit.
hanya tidak ingin melihatnya menangis saat aku terpaksa menyampaikan: “aku gagal”. ya, aku tahu: proses lebih penting dibandingkan hasil, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
tapi tetap saja sakit, dan aku pernah merasakannya. lebih sakit.

karenanya, untuk saat ini, biarkan aku menitipkannya hanya kepada Sang Pemilik Masa Depan.

Khadijah, The True Love Story of Muhammad

Akhirnya kesampean juga beli plus baca buku ini. Buat yang pengen tau buku macam apa ini, ato masih ragu pengen baca ato nggak, ini kilasannya… semoga membantu :)

Kalo dilihat dari judul dan warna covernya yang pink banget, mungkin akan banyak yang mengira isinya adalah kisah cinta romantis antara Rasulullah dengan Siti Khadijjah. Sebenarnya, membaca buku ini seperti membaca kembali sirah nabawiyah dalam gaya tulisan yang berbeda. Kalo biasanya, sirah dimulai dari kelahiran Rasul sampai wafatnya sedangkan buku ini bercerita dimulai dari asal usul Siti Khadijah, sampai beliau wafat. Alurnya maju mundur, dan cukup sering membuat pengulangan di beberapa penggalan kisah untuk memberi penekanan di sana.

Dalam setiap bab, penulis biasanya menyertakan syair-syair yang dibuat oleh para shahabat, pembesar quraisy, paman Rasulullah (Abu Thalib), dsb. Kisah yang murni tentang Khadijah ga terlalu banyak, kecuali di bab awal dan bab terakhir yang isinya memang 100% bercerita tentang kisah hidup dan keistimewaan beliau. Tapi bagi saya, itu sudah cukup membuat malu dan… apa ya? intinya, beliau keren banget deh! ^_^

Mungkin selama ini, kita (saya lebih tepatnya) sering merasa bahwa kehidupan Rasulullah, Siti Khadijah dan para shahabat sangat melangit. Terlalu ideal, jauh dari permasalahan kekinian, dan lain sebagainya. Membaca buku ini, saya jadi tau: “ooo, ternyata Siti Khadijah pernah resah karena belum juga dikarunai seorang putra, Fatimah dan Ali pernah berantem lalu didamaikan oleh Rasul…” Ya, bumbu-bumbu kehidupan itu tidak menjadikan mereka lemah dan berlama-lama berada di sana, namun sebaliknya membuat mereka semakin kuat untuk memperjuangkan kebenaran Islam. Subhanallah…