Di Sini Pecel, Di Sana Pecel
Hmm, tambah satu lagi hobi kami yang sama: sangat menikmati kuliner ndeso di mana pun berada. Sebut saja, angkringan, rujak bumbu petis khas Situbondo sampai bumbu manis, nasi ayam ala KA ekonomi, bajigur, singkong (digoreng, dikolak, dll), dan … satu menu terfavorit: Pecel! Pecel Madiun, pecel Kediri, pecel Kroya, pecel Wonogiri, pecel ayam, pecel telor,…
Bagi kami -terutama bagiku sih
-, pecel adalah hidangan istimewa yang selalu dinantikan. Anehnya, nggak pernah bosen. Dari semua pecel yang pernah dicicipi, selalu ada rasa yang unik. Wangi daun jeruk di pecel Madiun, rasa pahitĀ (tapi enak)nya daun pepaya rebus di pecel Kroya, bumbu kacang sederhana yang ditambah bongko khas pecel Wonogiri, semuanya selalu berkesan. Seperti semalam, pesan pecel telor sambil memperhatikan gaya Mas penjual yang menggoreng telor dalam minyak panas. Paginya, langsung dipraktikkan. Hehe.
Ini baru dari satu makanan yang namanya pecel, belum lagi dari menu lain. Soto, misalnya. Wuih, kreativitas bangsa ini memang keren. Ini baru dari satu jenis potensi budaya, belum lagi jenis budaya yang lain. Batik, misalnya. Wuih…
Alhamdulillah
Kita makan pecel yuk!
Gadis Kecil di Depan Pintu Warung
Sudah dua kali aku melihatnya saat sedang berjalan di daerah Dago. Di depan pintu sebuah warung, ia duduk. Sepertinya ia adalah putri kesayangan pemilik warung. Usianya sekitar lima atau enam tahun. Rambutnya hitam, tergerai indah. Matanya bening, memancarkan ketulusan.
Pertama kali melihatnya, ia sedang sarapan disuapi seorang wanita, mungkin ibunya. Tadi pagi, aku melihatnya lagi. Ia tidak sedang sarapan, hanya duduk-duduk saja di depan warung. Satu hal yang tidak hilang darinya, senyum tulus yang selalu menghiasi wajahnya sambil menatap ke arahku, seakan ia menyapa, “Selamat pagi, Kak…”
Ingin aku benar-benar membalas sapaannya, “Selamat pagi, Dik.. Terimakasih, telah mengajarkanku bersedekah di pagi hari”. Ya, bukan sekedar menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.
Mari Pulang
Dalam perjalanan kali ini, ada saja kejadian sederhana yang ditemui. Pulang pergi naik kereta api, asyiknya… Meski liburan cukup panjang, gerbongnya tidak terlalu penuh. Saat pulang, kursi tepat di depan kami ternyata kosong. Sampai di stasiun pertama, masih kosong. Enaknya sih diputar, bisa untuk meluruskan kaki. Lumayan, 15 jam. Tapi,
Nggak usah diputar ya, bukan hak kita.
katanya. Thanks.
Bagaimana dengan hak mereka di sana?
Naik Sepeda
Aku bisa naik sepeda roda dua, pertama kali pas umur sembilan tahun. Agak lambat belajarnya, soalnya dulu takutan gitu. Takut jatuh, takut nabrak. Hehe
Dan memang, ga jatuh ya ga belajar. Dulu sempat jatuh ke selokan, bahkan pernah ban sepedaku masuk ke bagian bawah pick up waktu belok di pertigaan. Hmm, terakhir kali naik sepeda kapan ya? Udah lama banget, bertahun-tahun yang lalu. Tapi, kalau dibonceng naik sepeda sih, baru aja tadi pagi. Alhamdulillah, udara Bandung di pagi hari, segarnya… Apalagi jalan yang dilalui cenderung menurun, seru. Yang cukup memeras keringat adalah saat harus menempuh arah sebaliknya, alias pas waktunya pulang ke rumah. Ya, itung-itung olahraga. Eh, nemu tipsnya di sini untuk bersepeda di tanjakan. Semoga bermanfaat
Let’s bike to work, let’s bike to school.
Q: Bu, sekarang bulan apa?
A: Bulan Dzulhijjah, Nak.
Menilai
Seorang guru pernah bilang bahwa memberi nilai adalah pekerjaan yang paling tidak disukainya. Agak tidak nyaman memang, menjadi penentu langkah seseorang. Setelah kupikir-pikir dan kurasa-rasa, guru yang sedang memberi nilai kepada muridnya sebenarnya sedang memberi nilai kepada dirinya sendiri. Apa yang diberi itulah yang diterima. Harus lebih optimal dalam memberi nih. Tapi jangan seperti lilin yang membakar diri demi menyinari sekitarnya atau seperti teko yang terus2an dituang tanpa diisi ulang.
Satu lagi, di balik (bersama) kesulitan ada kemudahan. Sungguh, di balik (bersama) kesulitan ada kemudahan. Tau kok, itu pasti. Tapi ya gitu, sering lupa (ato ga yakin?).
Di Radio…
Pagi kemarin, sembari mengerjakan beberapa hal, aku memilih siaran Pro3-RRI yang biasanya berisi berita-berita up-to-date di dalam dan luar negeri. Sang penyiar sedang menyapa seorang narasumber, belakangan aku ketahui, seorang tokoh ekonomi Indonesia sekaligus Guru Besar UI, Bapak Sri Edi Swasono. Yang sedang dibahas adalah pengaruh krisis ekonomi global bagi indonesia. Hmm, tampak menarik pikirku. Tampaknya si krisis ini sedang menjadi buah bibir di berita2, tapi kok aku belum begitu ngeh ya. Jadi penasaran. Aku pantengin deh…
Wah, ternyata komentar2 Pak Edi cukup ‘pedas’. Sepedas apakah..?
Comments (7)
Comments (20)
Comments (15)