Memulai dan Menjaga

Memulai memerlukan energi aktivasi yang besar. Selanjutnya, akan hadir semangat yang meletup-letup. Jika tidak hati-hati, setiap yang berlebihan itu tidak baik. Mungkin akan hadir ketidakseimbangan, lalu kebosanan pun menyerang. Sesuatu yang terasa istimewa di awal, lama-lama menjadi biasa-biasa saja. Waktu memang menakutkan, bisa mengubah segalanya namun tidak bisa mengembalikannya.

Menjaga juga memerlukan energi, tapi bentuknya berbeda dengan energi aktivasi. Hmm, mungkin harus lebih halus (emang gimana sih, bentuk energi yang halus?). Sedikit demi sedikit, tapi selalu ada. Perlu momen-momen sederhana untuk membuatnya selalu aktif, seperti: ibadah-ibadah sunnah. Semoga selalu terjaga dalam cinta kepadaNya.

-maaf, postingan ini sangat tidak jelas. nggremeng ora nggenah alias ngacapruk teu puguh-

Jus Kunyit

Terinspirasi oleh postingan t’rela yang ini, ternyata kunyit bisa jadi lalapan. Jadi penasaran… Nah, sekarang kita coba jus kunyit (alias jamu kunyit) aja yuk! Pas pulang kemaren dibikinin ibu, whuaa… segarnya… Di Bandung ga pernah minum, maklum peralatan masaknya terbatas (alasan). Kalo beli dari mbak penjual jamu gendong, kok rasanya kurang mantap. Btw, kami memang keluarga penggemar jamu, bahkan kata ibu sejak bayi aku udah hobi minum jamu, dari yang super pahit sampai yang manis.

Katanya (kata siapa? googling aja deh :P ), kunyit itu bagus untuk pencernaan, metabolisme tubuh, melancarkan peredaran darah, dsb. Oke, aku ga bahas ini. Langsung aja ke cara bikinnya, tapi takaran bahannya terserah, tergantung kekentalan dan rasa yang diinginkan. Biasanya, satu gelas yang gedenya standar itu butuh 3-4 kunyit berukuran sedang.

  1. Cuci bersih kunyit, potong-potong. Taruh di gelas blender, tambah air matang secukupnya terus diblender sampai hancur (kalo pengin diparut, silakan… tapi tangan pasti jadi kuning dan cukup susah ngilanginnya)
  2. Saring hasil blender-an. Biasanya, pake saringan yang kecil gitu, terus dipenyet-penyet pake sendok sampai bener-bener jadi ampas. (Lagi-lagi ini biar tangan kita ga kuning)
  3. Sekarang, kita kasih rasa manis. Mau pake gula jawa yang dihancurkan silakan, atau pake madu juga ga papa. Ini dia yang bikin seger: tambahkan larutan asam jawa.

Selamat menikmati.. Let’s back to nature.

Untukmu, keseribu kalinya

The Kite Runner adalah novel perdana dari penulis kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini. Novel ini menggambarkan suasana Afghanistan sebelum Rusia menginvasi negara tersebut pada tahun 1979 hingga jatuhnya kekuasaan rezim Taliban. Ceritanya mengisahkan tokoh Amir, yang dalam novel ini bertindak sebagai narator. Di masa kecilnya, Amir tinggal bersama ayah yang dipanggilnya Baba dan pelayannya, Ali, serta putra Ali, Hassan, yang juga menjadi sahabatnya. Namun, suatu peristiwa di turnamen layang-layang mengubah semuanya. Kepengecutan Amir mengalahkan kesetiaan Hassan kepadanya.

Gaya bahasa dalam novel ini mampu mengaduk-aduk emosi pembaca: cemas, sedih, bahagia, takut. Tema yang diangkat merupakan kisah mengenai kehidupan manusia yang tidak lepas dari cinta, kehormatan, pengkhianatan, ketakutan, pengabdian, dan penebusan. Bagian yang paling menarik adalah saat Amir mengetahui sebuah rahasia besar dari sahabat ayahnya, (Rahim Khan) yang membuatnya semakin merasa bersalah dengan semua kepengecutan yang dimilikinya. Namun, terbongkarnya rahasia itu mampu memberinya semangat untuk kembali menuju jalan kebaikan.

Kekacauan pada rezim Taliban, kesengsaraan rakyat Afghan, dan porak-porandanya infrastruktur distrik di Kabul dan sekitarnya terungkap dengan baik dalam buku ini. Satu hal lagi yang menarik, kita dapat mengambil pelajaran bahwa penegakan hukum Islam memang harus dimulai oleh kesiapan masyarakat. Tentunya dengan metode yang elegan dan memanusiakan.

Yang paling aku suka, kalimat Hassan sebagai bukti kesetiaannya kepada Amir: “untukmu, keseribu kalinya”. Omong-omong tentang setia, kok namaku disebut-sebut ya :P -ga nyambung-
Eh, hubungan judulnya (The Kite Runner) sama isinya apa?? Penasaran? Mending baca aja… ;) Oya, novel ini juga dibikin film dan berhasil meraih berbagai penghargaan internasional.

Makasih buat K’Wahyudi atas bukunya.

Jangan Malu Belajar dari India

Di suatu siang yang cerah, terjadi percakapan secara online:
(14:42:36)Ani: mau request
(14:43:32)Ani: lagu A udah ada?
(14:44:20)Ina: belum.
(14:44:35)Ina: nanti mungkin ada
(14:44:38)Ina: tenang :)
(14:45:39)Ani: ya udah lagu B saja, trims. Selamat siaran ya!

Ina adalah seorang penyiar radio di sebuah kota, dan Ani adalah temannya yang mendengarkan siaran radio dari kota lain. Ya, dengan internet segalanya menjadi mungkin. Mendengarkan radio melalui fasilitas streaming, dan memesan lagu melalui fasilitas percakapan online. Dulu, kita harus memiliki radio dan telepon untuk melakukannya. Sekarang? Cukup duduk manis di depan komputer yang terhubung ke internet, dan semuanya tersedia di depan mata. Jarak jangkau radio sudah tidak dibatasi lagi oleh kisaran wilayah kota atau kabupaten. Ini adalah kisah dari sebuah negeri bernama Indonesia. Di belahan Benua Asia yang lain pun telah terjadi perubahan karena hadirnya internet, namun perubahannya mampu membawa efek yang begitu dahsyat bagi peningkatan kualitas hidup penduduknya.

—–
Ceritanya, yang di atas itu prolog dari ini, Tugas Mata Kuliah Jurnalisme. Lagi belajar nulis serius :D Jika berkenan silakan diberi komentar, baik dari segi content atau teknik penulisan. Trims.

Berhenti sejenak

Rutinitas, kesibukan, dkk kadang membawa kehampaan dan membuatku bertanya: “he, lagi ngapain sih aku ini?” Sangat mungkin, aku telah mengalami disorientasi (halah), menjadikan sarana-sarana yang ada sebagai tujuan akhir, jadinya lupa: sebenarnya aku mau ke mana.

Kemarin, aku memilih untuk berhenti sejenak sembari melakukan hal-hal di luar rutinitas. Mengevaluasi dan memastikan bahwa jalan yang kutempuh tidak salah. Merenung dalam perjalanan antarkota (kembali belajar tentang hakikat hidup), menemani adik mengerjakan PR-nya, dan tentu saja berbagi cerita dengan mereka yang telah beberapa waktu tidak kutemui.

Sepintas, memang seperti lari dari kenyataan. Semoga saja bukan pembenaran. Seharusnya, hari ini ada niat yang lebih baik untuk memulai kembali. Bismillahirrahmaanirrahiim. Semangat kawan!

Ada sebungkus rokok di tasku

Iya, di tasku ada sebungkus rokok *-M*ld lengkap dengan koreknya. Segitu stressnya kah aku sampe punya kebiasaan aneh: jadi seorang perokok? Tenang… aku bukan orang yang suka mencari-cari pembenaran utk diijinkan merokok dengan alasan: “ah, saya kan lagi banyak pikiran, wajar donk kalo saya merokok..” ato beribu-ribu alasan lainnya yang tidak akan pernah(mau) kumengerti. Terus, dari mana rokok itu berasal? Hehehe, sebenernya rokok itu hasil razia yang aku lakukan waktu ketemu dengan salah seorang sodaraku.
“Mas, aku ambil ya rokoknya.”
“Mo diapain?”
“Dibuang.”
“Ambil aja, itu juga dikasih orang.”

Untung sodaraku yang satu ini bukan perokok tulen. Entah gimana ceritanya kalo kondisinya berbeda.

Terimakasih, Guruku!

Satu file foto bisa bercerita tentang banyak kenangan. Tawa, canda, kejutan, tangis, penghormatan, pengorbanan, pengertian dan harapan.

Satu syair lagu bisa menghadirkan banyak wajah yang telah berjasa mengantarkanku sampai di titik ini, dan mungkin sampai pada titik-titik di masa depan.

pagiku cerahku matahari bersinar
kugendong tas merahku di pundak
slamat pagi semua
kunantikan dirimu di depan kelasmu menantikan kami
guruku tersayang guru tercinta
tanpamu apa jadinya aku
tak bisa baca tulis mengerti banyak hal
guruku terimakasihku
nyatanya diriku kadang buatmu marah
namun segala maaf kau berikan

AFI Junior, Terimakasih Guruku!

Next Page »